From Sand to Cells: Perjalanan Silika yang Mengubah Dunia

Blog Single
Sekretaris Jenderal PERTAMISI, Umar Rivaldy Pulukadang, menjadi pembicara di acara APAC 10th Stainless Steel Industry Conference 2025 yang digelar oleh Shanghai Metals Market (SMM) di Xiamen, China.
foto2.png 108.27 KB

Dalam forum tersebut, beliau membawakan topik berjudul “From Sand to Cells: Building an Indonesia–China Silica Corridor for Stainless, Glass, & EV Value Chains.”
Dalam pemaparannya, Umar Rivaldy menjelaskan bahwa pasar pasir silika kini berada di masa yang penting dan penuh tantangan.
Selama dua dekade terakhir, dari tahun 2015 hingga 2035, dunia mengalami banyak perubahan dalam permintaan, pola konsumsi, dan nilai pasar silika. Kini, kondisi tersebut semakin kompleks karena mulai muncul kekurangan pasokan di beberapa wilayah.
Untuk menghadapi situasi ini, industri perlu memahami proses pengelolaan silika secara menyeluruh, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga pemanfaatannya di sektor hilir.
Setiap segmen pasar kini menuntut kualitas dan konsistensi produk yang lebih tinggi, sehingga peningkatan standar menjadi hal yang tidak bisa dihindari.
Umar juga menyoroti dua hal besar yang saat ini menjadi penggerak utama industri silika dunia:
  1. Kebutuhan energi yang besar untuk produksi silikon, dan
  2. Kebijakan hilirisasi nasional yang semakin aktif di banyak negara.
Kedua faktor ini menunjukkan bahwa meskipun industri silika menghadapi tantangan besar, di saat yang sama juga muncul peluang investasi yang menjanjikan.
Dengan mengatasi kekurangan pasokan dan memanfaatkan kemajuan teknologi, potensi silika bisa dimaksimalkan untuk mendukung banyak sektor penting, mulai dari konstruksi, stainless steel, kaca, hingga teknologi kendaraan listrik (EV).
Melalui konsep Indonesia–China Silica Corridor, Umar ingin mendorong kerja sama strategis antara kedua negara. Indonesia memiliki cadangan silika yang melimpah, sementara China unggul dalam teknologi dan pasar hilir. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan rantai pasok yang efisien, berkelanjutan, dan saling menguntungkan bagi kedua negara.
Menutup presentasinya, Umar menegaskan bahwa silika bukan hanya bahan baku biasa.
Dari pasir yang tampak sederhana, material ini menjadi bagian penting dalam pembangunan masa depan dari kaca dan baja tahan karat, hingga baterai kendaraan listrik dan teknologi digital.

foto1.png 129.79 KB